Ahmad Suradji

Mengulas Perdebatan Hukum Kasus Serial Killer Dukun AS, Pembunuh 42 Wanita

Beberapa waktu terakhir, tanah air kembali diramaikan mencuatnya berbagai kasus pembunuhan yang memiliki keterkaitan dengan praktik perdukunan dan ilmu hitam. Sebut saja, seperti kasus Dukun Slamet Banjarnegara April 2023 lalu, Dukun Rudi yang incest dengan putrinya sendiri hingga membunuh 7 bayi hasil hubungannya itu, dan masih banyak lagi. Jauh sebelumnya pernah ramai kasus Dukun Ahmad Suradji atau dikenal “Dukun AS”.

“Kalau kita bicara dalam perspektif antropologi, orang menganut aliran kepercayaan tertentu itu sudah ada dari nenek moyang kita dahulu,” ujar Akademisi Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) Dr. Eva Achjani Zulfa melalui sambungan telepon, Selasa (12/9/2023).

Ia melihat hal yang disebut ‘ilmu hitam’ maupun ‘ilmu putih’ menjadi sesuatu yang masih ada dalam masyarakat kita sampai sekarang. “Kalau dalam perspektif hukum pidana, apapun perbuatannya manakala itu mengancam nyawa dan tubuh, itu sebuah tindak pidana,” kata dia.

Seperti diketahui, beberapa kasus pernah terjadi berkedok dukun berakhir di meja hijau lantaran aksi ‘menimba kesaktian ilmu hitam’-nya hingga memakan korban. Salah satu dukun yang dalam sejarah kasus hukum di Indonesia pernah dipidanakan karena aksi ‘serial killer’-nya itu yakni kasus Dukun Ahmad Suradji atau yang lebih dikenal sebagai “Dukun AS”.

“Sebenarnya untuk kasus pembunuhan berantai itu penanganannya sama ya seperti tindak pidana pada umumnya. Mungkin ketentuan yang sempat jadi perdebatan waktu itu seingat saya, ketika Jaksa menggunakan Pasal 338 jo. Pasal 64 KUHP. Pasal 64 ini bicara tentang perbuatan berlanjut karena syaratnya ada seseorang melakukan berbagai tindak pidana, tapi lahirnya dari satu niat. Ini terbongkar dari si Istri, dia (AS) mau membunuh 72 orang (karena mendapat bisikan ghaib,” ungkapnya.

Kasus ini ramai menjadi buah bibir di tahun 2000-an. Kasus ini dikenal dalam daftar pembunuh berantai di Indonesia karena telah membunuh 42 wanita di Desa Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Aksi bengisnya itu dilakukan sejak 1986 sampai dengan 1997. Alasannya? Untuk memperkuat kesaktiannya dan mendalami ilmu hitam. Dalam melakukan aksi sadisnya itu, ia meyakini harus menghabisi dan mengisap air liur 72 wanita.

Dukun AS berakhir dengan putusan hukuman mati pada 10 Juli 2008 setelah upaya mengajukan kasasi hingga mengajukan grasi ke Presiden ditolak. Selain penggunaan Pasal 64 KUHP, kasus Dukun AS dianggap lebih tepat jika menggunakan Pasal 340 dibandingkan Pasal 338 KUHP.

Pada akhirnya, aksi kejahatannya itu terbongkar ketika empat hari setelah korban terakhirnya berinisial SKD dihabisi nyawanya. Seorang pemuda Dusun Aman Damai mendapati mayat tak berbusana di ladang tebu. SKD dikabarkan menghilang oleh pihak keluarga. Setelah berjalannya proses penyidikan pihak kepolisian yang tak habis akal, pada akhirnya berhasil ditemukan benang merah yang merujuk pada Suradji.

Seperti diketahui, SKD atau sejumlah laporan orang hilang beberapa waktu belakangan merupakan pasien dari Dukun AS. Perkaranya bergulir ke persidangan di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Sumatera Utara. Lalu, majelis hakim memutuskan terdakwa Dukun AS divonis hukuman mati pada 27 April 1998. Ia mengajukan upaya hukum hingga kasasi yang berujung ditolak oleh Mahkamah Agung (MA) pada 14 September 1998.

Dengan bantuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Dukun AS sempat memohonkan grasi ke Presiden pada tahun 2004 yang akhirnya ditolak pada 27 Desember 2007 oleh Presiden SBY. Akhirnya, Suradji dieksekusi mati pada 10 Juli 2008 oleh regu tembuk dari Tim Eksekutor dari Satuan Brimob Polda Sumut.

“Kembali lagi mengenai Pasal 64 KUHP, jangka waktu antara satu perbuatan dengan satu perbuatan lain tidak lama. Di kasus Dukun AS ini bervariasi. Tetapi karena kesatuan niat tadi, ini dianggap masih satu rangkaian walau jeda waktunya lumayan lama. Kemudian tindak pidana ini syaratnya yang kadang jadi pertanyaan orang secara teoritis, sebenarnya ini jadi dasar pemberat atau bukan?”

Sebab hukuman yang dikenakan melalui Pasal 64 KUHP, sambungnya, hanya satu aturan pidana saja. “Itu jadi perdebatan. Memang dianggap lebih tepat jika menggunakan Pasal 340 (dibandingkan Pasal 338 KUHP yang didakwakan Jaksa). Agar diserap berdasarkan Pasal 64 KUHP itu menjadi satu kali hukuman mati (melalui Pasal 338),” kata dia.

Eva mengungkapkan mengenai elaborasi lebih lanjut sehubungan dengan alasan di balik sistem penyerapan yang dianut Pasal 64 KUHP ini sampai sekarang masih belum terjawab. Sebab, intensi dari pasal ini sebagai dasar pemberat atau peringan pidana seringkali menjadi perdebatan hingga sekarang.

“Mengenai aturan ini di Pasal 126 ayat (1) KUHP baru, bentuknya sama dengan ketentuan Pasal 64 KUHP lama. Jadi pembentuk KUHP baru ini tidak mengubah normanya. Tetap disebut perbuatan berlanjut itu menggunakan sistem absorbsi atau menyerap, hanya satu (perbuatan, red) saja yang dihukum,” ungkapnya.

Dari kasus Dukun AS dan kasus praktik perdukunan lainnya yang mengandung aliran kepercayaan, menurut Eva, ada beberapa pembelajaran yang dapat dipetik. Secara administratif perihal pengakuan atas aliran kepercayaan ini pemerintah harus mensosialisasi atau memberi penjelasan seluas-luasnya kepada masyarakat. “Bahwa aliran kepercayaan yang diakui pemerintah adalah aliran yang memang tidak melanggar HAM. Ada batasan di sana,” ujarnya mengingatkan.

Sedangkan kepada mahasiswa hukum, ia memandang ada suatu hal yang menarik dalam mempelajari dan mengkaji/menggali putusan-putusan kasus lawas dan sering disebut “ratio decidendi” ialah bagaimana hakim memutus, dasar rasionalisasinya akan dijumpai pada pertimbangan putusan.

“Rasanya penting ya untuk mengkaji putusan-putusan kasus lama. Bukan menjadi sesuatu yang kuno, karena kalau di dalam aliran common law system mungkin sudah dikenal how judge makes the law. Bagaimana hakim mempertimbangkan suatu kasus itu menjadi sesuatu yang saya kira menarik untuk pembelajaran hukum,” sarannya.

Baca Juga: https://alanyatuning.com/ini-7-manfaat-daun-putri-malu-yang-jarang-diketahui/

perempuan tanah jahanam

Resensi Film Perempuan Tanah Jahanam

Film Perempuan Tanah Jahanam besutan sutradara Joko Anwar dibintangi oleh Tara Basro, Marissa Anita, Christine Hakim, Asmara Abigail dan Ario Bayu. Film yang mengantongi banyak penghargaan Piala Citra 2020  menceritakan dua orang sahabat bernama Maya dan Dini, yang mengalami kesulitan keuangan setelah keluar dari pekerjaan sebelumnya yaitu kasir gerbang tol.

Awalnya setelah keluar dari pekerjaan itu mereka menjadi pedagang pakaian di kios pasar tapi ternyata sepi pembeli, hingga akhirnya Maya menemukan sebuah kertas di bekas luka yang ada di pahanya saat tengah buang air kecil di toilet pasar tersebut. Luka itu di dapat dari seorang lelaki misterius yang Maya sendiri tidak kenal, tapi lelaki itu menjadi awal mula Maya tahu desa kelahirannya.

Dari kesulitan ekonomi dan secarik kertas inilah, sebuah ide muncul untuk mencari desa kelahiran Maya karena siapa tahu ada harta peninggalan orang tuanya yang masih tersisa untuk dijual. Perjalanan jauh pun mereka tempuh untuk sampai ke desa kelahiran tersebut. Nuansa terasa aneh di desa itu namun tidak membuat mereka surut pulang tanpa hasil.

Kehadiran mereka berdua tidak disukai oleh warga desa, hingga Dini memutuskan untuk bisa kembali ke kota tapi Maya tetap pada pendiriannya untuk tetap di desa ini hingga apa yang menjadi rasa penasarannya terpenuhi. Sejarah kelam keluarganya sedikit demi sedikit terbongkar, bahkan ia akhirnya tahu  mengapa warga di desa tersebut harus membunuh setiap bayi yang baru lahir sehingga tidak ada anak-anak kecil tumbuh di sana.

Semua terjawab hingga Maya tahu siapa dirinya sebenarnya dan dari mana sumber malapetaka di desa ini.

Perjuangan Maya yang ingin mengetahui siapa keluarganya dan desa kelahirannya, walaupun di sisi lain juga ingin harta peninggalan orangtuanya agar bisa bertahan hidup. Ambisi dan kebohongan ternyata membawa dini menuju pada kematiannya, meninggalkan sang sahabat untuk berjuang sendirian di desa aneh yang penuh misteri ini.

Namun pada akhirnya Maya tahu apa yang menjadi misteri baginya mengapa ketiga hantu anak-anak itu mengikutinya. Dia  juga tahu sejarah asal-usul dirinya yang sebenarnya bahkan ia tahu siapa sesungguhnya orang tuanya.

Dengan terpecahkan misteri ini, Maya berusaha untuk menghentikan kutukan di desa ini sesuai dengan petunjuk yang dia lihat. Ketiga hantu anak kecil itu pun yang menjadi petunjuk arahnya, hingga pada akhirnya dirinya terbebas dari segala peristiwa  misteri yang menggelayut desa ini dan kembali ke kota.

Dikutip dari liputan6.com, film Perempuan Tanah Jahanam yang skenarionya juga ditulis oleh Joko Anwar telah dipersiapkan selama 10 tahun. Joko Anwar mengaku tidak terburu-buru untuk membuat film ini karena dirinya ingin mematangkan lagi konsep-konsep dari film Perempuan Tanah Jahanam.

Christine Hakim sebagai aktris langganan peraih piala Citra yang melegenda turut bermain dengan memerankan tokoh seorang ibu yang kontroversial. Kasting para pemain dan pemilihan lokasi sebagai latar belakang shooting film yang bernuansa desa menjadi nilai tersendiri.

Film Perempuan Tanah Jahanam rekomendasi banget untuk orang-orang yang suka dengan genre thriller-horor, bahkan ada suguhan unsur budaya juga di dalamnya yakni pertunjukkan wayang kulit. Namun tidak diperuntukkan bagi anak-anak di bawah umur karena ada adegan  pembunuhan secara tragis.

Baca Juga : https://www.immigrationinfocanada.com/marlina-si-pembunuh-dalam-empat-babak/

Marlina Si Pembunuh Empat Babak

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Sinopsis

Marlina adalah seorang janda yang sedang berkabung. Setiap hari ia membanting tulang untuk mengumpulkan cukup uang, demi membiayai ritual upacara pemakaman suaminya yang baru meninggal. Jasad suaminya diawetkan dan terbaring di ruang tamunya, menunggu waktunya dimakamkan. Markus, lelaki berperawakan besar dan kasar, mengetuk pintu rumahnya dan mengancam akan merampoknya dalam waktu setengah jam. Hal itupun terjadi. Marlina meracuni anggota kawanan perampok, dan menggoda Markus hingga birahinya bangkit. Saat berhubungan badan, Marlina memenggal kepala Markus lalu menjinjing kepalanya yang dibungkus kain ke dengan tujuan kantor polisi. Jarak antara satu rumah dan rumah yang lain di Sumba Barat bisa mencapai 10 hingga 20 kilometer, sehingga perjalanan Marlina terasa sebagai sebuah petualangan metaforis, di mana dia menemukan kekuatan diri dan kelahiran yang baru.

Sebentar lagi kita akan merayakan 76 tahun kemerdekaan Republik Indonesia dari ancaman penjajah.

Saat berbicara soal kemerdekaan, secara kolektif kita setuju bahwa kebebasan adalah unsur terbesar yang membangunnya.

Kebebasan memang sebuah kata yang sulit diterapkan karena setiap orang memiliki indikator kebebasan yang berbeda-beda.

Namun ada kebebasan esensial yang memang seharusnya menjadi hak setiap manusia, termasuk perempuan.

Perjuangan perempuan demi kebebasan tersebut digambarkan dengan apik dalam film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya sutradara perempuan Indonesia Mouly Surya pada tahun 2017.

Mouly berhasil mengungkapkan segala rintangan dan halangan yang perempuan Indonesia hadapi, terutama yang di pelosok, setiap harinya dalam tiap babak kehidupan.

Film ini menceritakan kisah Marlina (Marsha Timothy) yang hidup sendirian di tanah Sumba semenjak suaminya meninggal.

Masalah datang ketika gerombolan perampok datang ke rumahnya untuk merenggut apa yang dimiliki Marlina. Tak hanya harta, mereka juga menginginkan kehormatan Marlina.

Babak Pertama: Perampokan

Film dimulai ketika rumah Marlina didatangi oleh Markus, ketua gerombolan perampok untuk mengambil harta yang dimiliki Marlina.

Tak puas dengan itu saja, Markus juga mengatakan ia dan kawan-kawannya akan melakukan tindak kekerasan seksual pada Marlina.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (bahasa Inggris: Marlina the Murderer in Four Acts) adalah film drama cerita seru neo-Barat Indonesia tahun 2017 yang disutradarai oleh Mouly Surya, yang juga menulis skenario bersama Rama Adi. Film ini dirilis pada 16 November 2017 dan membintangi Marsha Timothy sebagai Marlina. Film ini didistribusikan ke 18 negara, termasuk di antaranya Amerika Serikat, Kanada, negara-negara di Eropa dan Asia Tenggara.

Sinopsis

Suatu hari di sebuah padang sabana Sumba, Indonesia, sekawanan tujuh perampok mendatangi rumah seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy). Mereka mengancam nyawa, harta dan juga kehormatan Marlina di hadapan suaminya yang sudah berbentuk mumi, duduk di pojok ruangan.

Keesokan harinya dalam sebuah perjalanan demi mencari keadilan dan penebusan, Marlina membawa kepala dari bos perampok, Markus (Egi Fedly), yang ia penggal tadi malam. Marlina kemudian bertemu Novi (Dea Panendra) yang menunggu kelahiran bayinya dan Franz (Yoga Pratama) yang menginginkan kepala Markus kembali. Markus yang tak berkepala juga berjalan menguntit Marlina.

Pemeran

  • Marsha Timothy sebagai Marlina
  • Dea Panendra sebagai Novi
  • Yoga Pratama sebagai Frans
  • Egi Fedly Sebagai Markus

Promosi

Cinefondation L’Atelier, sebuah project market yang menjadi bagian dari Cannes Film Festival memilih Marlina The Murderer in Four Acts, proyek film terbaru dari sutradara Indonesia Mouly Surya sebagai satu dari 15 proyek film dari seluruh dunia yang mencari mitra co-produksi, agen penjualan, dan distribusi internasional. L’Atelier merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari festival film paling bergengsi di dunia ini. Tahun ini menandakan ke-69 kalinya festival yang diadakan di Prancis bagian selatan ini. Mouly Surya menjadi satu-satunya sutradara yang terseleksi dari Asia Tenggara tahun ini.

Cerita Marlina The Murderer in Four Acts ini ditulis oleh Mouly Surya dan Rama Adi dengan ide cerita dari Garin Nugroho. Film ini diproduseri oleh Rama Adi dan Fauzan Zidni. Rumah produksi Cinesurya Pictures bekerjasama dengan Kaninga Pictures dalam proyek ini atas kesamaan visi untuk memproduksi film Indonesia yang berkualitas. Proyek Marlina The Murderer in Four Acts sebelumnya masuk seleksi Asian Project Market (APM) di Busan International Film Festival 2015, dan juga terpilih sebagai salah satu penerima Next Masters Support Program dari ajang Talents Tokyo 2015.

Marlina The Murderer in Four Acts adalah film Indonesia pertama yang mendapatkan subsidi bergengsi dari dua kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Prancis lewat Cinemas du Monde dan pusat sinema CNC, Institut Francais.

Baca Juga: https://www.immigrationinfocanada.com/sinopsis-pengabdi-setan-jam-tayang-film-horor-tahun-baru/

pengabdi setan

Sinopsis Pengabdi Setan, Jam Tayang Film Horor Tahun Baru

Kisah film arahan sutradara Joko Anwar ini mengambil latar 1981. Menceritakan tentang Rini (Tara Basro) yang tinggal bersama neneknya, Rahma Saidah (Elly D Luthan), ibunya, Mawarni (Ayu Laksmi), ayahnya, Bahri (Bront Palarae), serta tiga adik laki-lakinya yakni Tony (Endy Arfian), Bondi (Nasar Anuz), dan Ian (Muhammad Adhiyat).

Keluarga ini tengah menghadapi masalah keuangan, lantaran tabungan habis buat biaya berobat Mawarni yang sakit parah. Mawarni sudah tak bisa bergerak, hanya rebahan di kasur dan memakai lonceng kecil untuk memanggil anak-anaknya. Mawarni dulunya penyanyi terkenal yang sukses lewat lagu ‘Kelam Malam’.

Berbagai usaha dilakukan untuk mendapat uang sebagai biaya berobat. Rini berusaha mendapat royalti, sementara Tony menjual motor. Namun tak lama Rini menemukan Mawarni sudah tewas dalam posisi jatuh di lantai.

Saat pemakaman Mawarni, Pak Ustaz (Arswendi Nasution) dan putranya Hendra (Dimas Aditya) mencoba menguatkan Rini dkk di masa berkabung. Sementara itu, Bahri memutuskan pergi ke kota untuk cari uang.

Setelah itu, kejadian mistis meneror keluarga ini. Rini didatangi sosok misterius seperti ibunya. Tak lama, nenek mereka tewas tenggelam di sumur, ditemukan Bondi. Sepeninggal nenek, Rini menemukan surat yang ditujukan pada Budiman Syailendra (Egi Fedly). Budiman mengungkap bahwa dulu nenek Rini tak merestui pernikahan putranya dengan Mawarni, karena sang biduan disebut tak bisa punya anak. Mawarni disebut ikut sekte pemuja setan untuk bisa dapat keturunan.

Kondisi rumah makin mencekam setelah Bondi yang trauma dan bertingkah seperti kerasukan berusaha menyakiti Ian. Di sisi lain, Tony membaca majalah yang menampilkan liputan sekte pemuja setan. Tony menduga Ian yang akan ulang tahun ke-7 bakal diambil sekte ini. Rini tak percaya.

Di tengah teror yang makin seram, Budiman menghubungi Hendra memberi tahu soal artikel tambahan. Setelah mengambil artikel itu, Hendra kecelakaan hingga tewas.Setelah putranya tewas,  Pak Ustaz memutuskan tak mau ikut campur urusan keluarga Rini.

Rini berusaha mengorek informasi dari ayahnya yang sudah pulang dari luar kota. Kondisi kian genting tatkala rumah mereka dikepung sekelompok makhluk hidup. Mampukah Rini menyelamatkan diri dan keluarganya?

Pengabdi Setan karya sutradara Joko Anwar merupakan salah satu film Indonesia bertema horor yang sukses mendapat perhatian di kancah perfilman dunia. Film yang dirilis pada 2017 ini dibintangi Tara Basro, Bront Palarae, Endy Arfian, Ayu Laksmi, Dimas Aditya dan masih banyak lagi.

Pengabdi Setan menceritakan tentang keluarga Rini (Tara Basro) dan dua adiknya yang sedang kesulitan mencari uang untuk pengobatan ibunya. Mawarni (Ayu Laksmi), sang ibu yang merupakan mantan penyanyi terkenal, menderita penyakit yang berat dan membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar. Keluarga Rini pun terpaksa menjual rumah mereka di kota dan pindah ke rumah nenek mereka di desa.

Selama sakit, Mawarni hanya bisa berbaring di atas kasur dan membunyikan sebuah lonceng untuk meminta bantuan kepada suami atau anak-anaknya. Pada akhirnya Mawarni meninggal dunia setelah berjuang untuk sembuh selama 3,5 tahun tanpa tahu penyakitnya. Setelah ibu meninggal, sang ayah, Bahri (Bront Palarae) pergi ke kota untuk mencari nafkah.

Sementara di rumah tersebut, Rini dan adik-adiknya mulai diganggu hal-hal mistis. Rini pun mencari tahu penyebab mereka diganggu. Mampukah Rinu membongkar teror dari makhluk halus? Saksikan Pengabdi Setan malam ini.

Baca Juga : https://www.immigrationinfocanada.com/cerita-mengerikan-di-balik-kastil-kematian-dokter-holmes/

Dokter-Holmes

Cerita Mengerikan di Balik ‘Kastil’ Kematian Dokter Holmes

Pernah dengar cerita tentang Hotel kematian Dokter Holmes? Bangunan hotel di Amerika berbentuk mirip kastil yang sekarang sudah hancur ini dulunya sempat menghebohkan publik karena terdapat cerita yang sangat mengerikan di baliknya. Cerita mengerikan tersebut tak lain datang dari sang pemilik hotel itu sendiri, Dokter Holmes.

Dokter Holmes

Herman Webster Mudgett Holmes lahir pada tanggal 7 Mei 1860. Sejak kecilia sudah mengalami penderitaan yang hebat. Ia adalah putra dari seorang petani yang sering mabuk dan sering kali memukulinya jika ia melakukan kesalahan. Pada umur 17 tahun, Holmes telah melakukan pembunuhan pertamanya. Korbannya adalah teman lamanya di sekolah. Holmes dewasa menetap di kota Chicago,AS dan mendapat pekerjaan di sebuah apotek besar. Setelah bekerja keras beberapa tahun di apotek tersebut, Ia akhirnya membeli sebidang tanah di dekat tempat kerjanya dan membangun sebuah hotel 3 lantai. Diketahui bahwa hotel tersebut berisikan 51 pintu yang terhalang oleh tembok, 100 ruangan tanpa jendela, tangga-tangga yang tidak berujung, dan dua buah tungku perapian.Terlahir sebagai Herman Webster Mudgett, skandal sebelumnya memberinya alasan bagus untuk mengubah namanya, melansir All That Interesting. Seperti di perguruan tinggi, ketika dia bekerja di lab anatomi dan memutilasi mayat untuk menipu perusahaan asuransi jiwa. Atau ketika dia adalah orang terakhir yang terlihat bersama seorang bocah lelaki yang hilang di New York. Atau ketika dia bekerja sebagai apoteker di Philadelphia dan seorang pelanggan meninggal setelah meminum pilnya. Setelah semua insiden ini, Mudgett hanya melewatkan kota dan akhirnya mengubah namanya menjadi Henry Howard Holmes. Segera setelah kedatangannya di Windy City, Holmes mendapat pekerjaan di sebuah toko obat di 63rd Street.

Pembunuhan Mengerikan di Hotel

Siapa sangka bahwa ternyata banyak terjadi pembunuhan sadis yang dilakukan Holmes pada para tamu hotelnya tersebut. Holmes merancang sebuah sistem alarm yang terhubung dengan semua pintu di setiap koridor dan ruangan hotel tersebut. Sehingga ia bisa memantau setiap gerak-gerik tamu hotel dan para calon korbannya. Holmes dikabarkan membunuh para tamunya dengan beberapa macam cara sadis yang telah ia persiapkan. Cara-cara sadis itu seperti korban akan dikunci di sebuah ruangan yang dilapisi oleh besi, setelah itu Holmes akan menyalakan penyembur api untuk memanaskan seisi ruangan sampai korbannya tersebut meleleh. Ada juga korban yang diberikan gas beracun hingga tewas, dan masih banyak lagi cara sadis yang digunakan Holmes untuk membunuh korbannya. Setelah korbannya tewas, Ia akan memutilasi dan membuang jasadnya ke sebuah ruangan bawah tanah di hotelnya tersebut. Adapun apartemen Holmes sendiri, memiliki pintu jebakan di kamar mandi, yang terbuka untuk mengungkapkan tangga yang menuju ke bilik tanpa jendela. Di bilik, diduga ada saluran besar yang menembus ke ruang bawah tanah. Satu ruangan penting dipenuhi dengan perlengkapan gas. Di sini, Holmes tampaknya akan menyegel korbannya, menyalakan sakelar di ruangan yang berdekatan, dan menunggu kengerian terungkap. Parasut lain ditemukan di dekatnya. Semua pintu dan beberapa anak tangga terhubung ke sistem alarm yang rumit. Setiap kali seseorang melangkah ke aula atau menuju ke bawah, bel berbunyi di kamar tidur Holmes. Namun, perlu dicatat bahwa deskripsi ini telah membuat skeptisisme oleh sejarawan dan perlu diingat bahwa setidaknya beberapa desain mungkin telah dibesar-besarkan oleh surat kabar pada zaman itu.

Penangkapan Dokter Holmes

Pada Tahun 1986, Holmes ditangkap atas dugaan kasus penipuan dan penggelapan uang. Ia bahkan sempat menyusun sebuah rencana pemalsuan kematian bersama seorang temannya sebelum akhirnya polisi berhasil membongkarnya. Setelah penyelidikan lebih lanjut polisi akhirnya juga berhasil membongkar kasus pembunuhan sadis di hotel miliknya tersebut. Usai menjalani beberapa tahun hukuman penjara, Holmes akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Sebelum dieksekusi, ia meminta agar jasadnya dikuburkan sedalam 10 kaki dan ditimbun dengan semen, sebab ia tak ingin ada pencuri makam yang menggali kuburnya dan mencuri bagian tubuhnya. Sementara itu, hotel 3 lantai miliknya hancur akibat sebuah kebakaran besar. Tidak pernah diketahui siapa yang membakarnya. Petunjuk pertama tentang tujuan sebenarnya dari denah lantai diketahui polisi dari tumpukan tulang. Sebagian besar tulang berasal dari hewan, tetapi beberapa di antaranya adalah manusia. Tulang-tulang itu sangat kecil sehingga hampir pasti milik seorang anak, yang berusia tidak lebih dari enam atau tujuh tahun. Dan ketika pihak berwenang turun ke ruang bawah tanah, ruang lingkup kengerian tersembunyi bangunan itu akhirnya terungkap. Di samping meja operasi yang berlumuran darah, mereka menemukan pakaian wanita. Permukaan bedah lain ada di dekatnya – bersama dengan krematorium, berbagai peralatan medis, alat penyiksaan yang aneh, dan rak-rak asam yang hancur. Ketertarikan Holmes dengan mayat tampaknya telah berlangsung lama setelah kuliah, seperti halnya keterampilan bedahnya. Setelah menjatuhkan korbannya melalui saluran, dia dilaporkan membedahnya, membersihkannya, dan kemudian menjual organ atau kerangkanya ke institusi medis atau ke pasar gelap.

Baca juga: