Cerita Film The Three Musketeers: D'Artagnan, Ambisi Pemuda Paris Menjadi Prajurit Kerajaan Modern

Cerita Film The Three Musketeers: D’Artagnan, Ambisi Pemuda Paris Menjadi Prajurit Kerajaan Modern

The Three Musketeers – Film Perancis The Three Musketeers: D’Artagnan adalah sebuah film aksi dan petualangan. Penonton akan dibawa melalui berbagai alur cerita, mulai dari perkelahian, percintaan hingga gosip yang kerap dibagikan pasangan di film ini. Film yang disutradarai oleh Martin Bourboulon ini didasarkan pada novel mahakarya Alexandre Dumas tahun 1844, The Three Musketeers (Les Trois Mousquetaires). Para pemeran film ini akan memukau penontonnya, karena setiap karakter yang dihadirkannya membuat jalan cerita semakin berwarna. Jadi bagaimana ceritanya? Sebelum membahas ualasannya ada baiknya kita bermain slot mahjong terlebih dahulu karena menonton film dengan bermain mahjong ways lebih mengasikan, Berikut ulasannya.

Diadaptasi dari novel

Film yang diadaptasi dari novel ini berlatar masa pemerintahan Raja Louis XIII, tepatnya tahun 1627, dan cukup epik. Kali ini The Three Musketeers dihadirkan dalam dua bagian saga, dengan D’Artagnan sebagai tokoh utamanya.

D’Artagnan merupakan seorang pemuda yang berasal dari wilayah Gascony, tepatnya di barat daya Perancis. Ia sangat ambisius, bahkan rela mengorbankan dirinya hanya untuk mencapai tujuannya.

D’Artagnan Bermimpi Menjadi Musketeer

Dalam ceritanya Charles D’Artagnan selalu bercita-cita menjadi musketeers, yaitu prajurit modern yang dilengkapi musket yang bertugas di Kerajaan Perancis, khusus untuk melindungi raja dari musuh.

Saat mengincar posisi sebagai musketeer, D’Artagnan bertemu dengan tiga prajurit Three Musketeers yaitu Athos, Aramis, dan Porthos. Awalnya mereka dipertemukan untuk berduel untuk menunjukkan kekuatan masing-masing.

Namun ternyata duel yang semula direncanakan terpaksa batal karena diserang sejumlah orang. Akhirnya D’Artagnan, Athos, Aramis, dan Porthos bersatu untuk melawan serangan tersebut. Hingga akhirnya mereka memenangkan pertarungan dan menjadi sahabat.

Alur Cerita Tiga Musketeer: D’Artagnan

Setelah bertahun-tahun hidup damai dan damai, ternyata Kerajaan Perancis di ambang perang karena agama baru.

Saat itu Raja Louis XIII masih berkuasa, namun sayangnya ia tidak memiliki ahli waris untuk mewarisi seluruh tahta dan kekayaannya. Sementara itu, negara sedang terpecah belah karena ada agama baru yang mengintai di wilayahnya.

Untuk mempertahankan kerajaannya, raja hanya bisa mengandalkan menteri terkuatnya, Kardinal de Richeliu. Namun di balik itu semua, banyak pihak yang berbisik-bisik untuk mewaspadai ambisi sang Kardinal karena ditengarai haus kekuasaan.

Pada narasi awal, ketegangan semakin terasa, pada masa revolusi dan konflik ketika D’Artagnan memutuskan untuk pergi ke Paris. Dari sinilah petualangan dimulai, dilanjutkan dengan jalan cerita yang menceritakan tentang kerajaan-kerajaan di Eropa dan perseteruan yang diakibatkan oleh munculnya agama baru.

Perpaduan Tiga Bahasa dan Suasana Kerajaan yang Kuat

Perpaduan tiga bahasa yakni Inggris, Latin, dan Prancis menjadi daya tarik film ini. Penonton akan diajak mendengarkan berbagai aksen yang diucapkan dengan lancar sehingga membuat film ini terasa nyata.

Selain itu suasana kerajaan Perancis juga cukup kental. Penonton juga akan diajak menjelajahi bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Salah satunya adalah Istana Louvre yang menjadi salah satu lokasi syuting yang paling banyak disorot.

The Three Musketeers: D’Artagnan akan tayang perdana di bioskop pada (29/11/2023). Film ini bisa jadi rekomendasi tontonan akhir pekan, khususnya bagi Anda yang menyukai sejarah, romansa, dan petualangan. Meski begitu, film ini tidak disarankan untuk ditonton oleh anak-anak. Cukup banyak memuat adegan kekerasan, kata-kata kotor, bahkan adegan dewasa.

Kasus Rio Martil

Dua Martil Jadi Senjatanya, Inilah Akhir Kisah Pembunuh Kejam Rio ‘Si Martil Maut’

Dengan latar belakang daerah wisata Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat 12 Januari 2001, inilah kisah Rio ‘si Martil Maut’ atau dijuluki ‘Rio Martil’ yang jadi pembunuh kejam, bagaimana akhir kisahnya?

Rio, pengusaha asal Jakarta, berada di kamar 135 Hotel Rosenda, berbicara panjang lebar tentang minatnya menanamkan modal di bisnis perumahan di Baturaden, yang menurutnya berprospek cerah.

Sementara, Jeje Suraji, yang menyewakan mobilnya yang digunakan Rio, adalah seorang pengacara yang menjalankan bisnis persewaan mobil, duduk di hadapan Rio dengan ogah-ogahan menanggapi obrolan Rio.

Namun, tiba-tiba saja, bug!

Jeje merasakan sebuah pukulan benda keras menghantam kepalanya, sangat keras, hingga darah mengucur dan membuatnya tak sadarkan diri.

Pukulan yang membuat kepala Jeje remuk itu dilakukan berkali-kali oleh Rio dengan menggunakan dua martil, satu di tangan kiri, dan satunya di kanan.

Darah dan isi kepala Jeje berhamburan, percikannya mengenai kursi, meja, kasur, bahkan sampai ke dinding.

Melihat tubuh ayah tiga anak tergolek bersimbah darah di kursi itu, Rio langsung membuang martil ke lantai.

Dia lalu meraih selimut dan seprai kasur untuk mengelap tangannya yang belepotan darah, lalu kain itu digunakan untuk menutupi tubuh korbannya.

Rio lalu menuju kamar mandi dan mencuci tangannya di wastafel, karena merasa kurang bersih.

Tak lama terdengar pelayan hotel memanggil nama Jeje sambil mengetuk pintu kamar,  yang dijawab Rio dengan berbohong.

Rio bergegas mengemasi barang-barangnya yang tidak terlalu banyak, setelah dirasa situasinya aman, dia lalu mencari kunci mobil di saku celana Jeje, sempat diliriknya arloji milik korban, yang kemudian dilepas dan ditaruhnya dalam saku celana.

Rio langsung tergesa-gesa ke tempat parkir ketika disapa pelayan hotel, yang langsung curiga karena Jeje tidak ada bersamanya.

Petugas hotel berteriak memanggil-manggil nama Rio, sengaja menarik perhatian orang di sekitarnya, dan ini membuat petugas keamanan hotel yang curiga ada ketidakberesan sudah lebih sigap dan memburunya, namun Rio melawan dengan kekesaran, dia membabi-buta menyerang petugas satpam.

Kegaduhan itu menarik lebih banyak orang yang langsung datang dan membantu, dan dalam waktu singkat Rio berhasil diringkus, yang mereka kira adalah maling, sehingga langsung dikeroyok hingga wajahnya babak belur.

Pegawai hotel tersadar karena Jeje tidak berada di antara mereka, dan langsung bergegas ke kamar 135 dan membukanya dengan kunci cadangan.

Pemandangan di dalam kamar itu sungguh mengenaskan dengan tubuh Jeje ditemukan terduduk di kursi hotel dalam keadaan tidak bernyawa, ditutupi seprai dan selimut serta bagian belakang kepala hancur, darah berceceran di lantang di lantai dan dinding.

Polisi segera datang setelah dikontak dan memeriksa TKP, bahkan Polsek Baturaden pun menurunkan timnya yang lebih lengkap.

Petugas kepolisian di Polsek Baturaden tidak pernah menyangka bahwa tersangka pelaku pembunuhan di wilayah mereka itu adalah Rio alias Toni, buronan yang dicari setidaknya oleh tiga Kepolisian Daerah, yaitu Polda Jawa Barat, Polda Jawa Timur, dan Polda Daerah Istimewa Yogyakarta.

Rio Alex Bullo, pria bertubuh kecil yang pendiam dan tertutup itu lahir di Sleman, 2 Mei 1978, dia dikenal tak banyak bicara, meski tidak terkesan menyeramkan bagi orang lain.

Dia tinggal di kawasan Senen, Jakarta Pusat, dengan orang-orang di lingkungannya yang tidak banyak mengenalnya.

Kepada keluarga istrinya, dia hanya bercerita kalau sudah merantau sejak usia 8 tahun, dititipkan ke kakak sulungnya di Jakarta, dan pernah pula ikut kakak yang lain di Medan.

Rio tumbuh besar di kawasan Pasar Senen yang dikenal sebagai daerah rawan, dan ini membuat tingkah laku Rio tidak terkendali.

Dia pernah bekerja sebagai pedagang, sopir taksi, hingga ke sebuah percetakan, namun tempat itu digerebek polisi karena menjadi tempat pembuatan surat-surat kendaraan palsu, seperti STNK dan BPKB.

Namun, dari pekerjannya itu, Rio berkenalan dengan jaringan pemalsu surat kendaraan, hingga menjadi komplotan pencuri mobil, dan dia pun terjun sebagai pencuri dan menggasak sejumlah mobil di berbagai tempat di Jakarta, dia pun dikenal sebagai pencuri ulung.

Dia sempat tinggal setahun di LP Cipingan setelah tersandung masalah dengan bos penadah mobil curiannya yang melaporkan ke polisi karena melarikan mobil setorannya, sekeluarnya dari LP dia melanjutkan pekerjaannya sebagai pencuri.

Kehidupannya sebagai kriminal, membuat  Rio akrab dengan dunia malam dan narkoba, uang hasil kejahatannya habis untuk berfoya-foya.

Ketika memutuskan untuk berkeluarga, Rio dikenal sebagai orang yang sangat sopan di mata keluarga istrinya, apalagi dia sayang terhadap ketiga anaknya, dua perempuan dan satu keluarga, namun istrinya mengaku suaminya tidak percah bercerita tentang pekerjaan yang sebenarnya, hanya bilang kalau pedagang.

Tetapi, dalam catatan polisi, sebelum Jeje, setidaknya dia pernah tiga kali melakukan pembunuhan, hingga polisi menetapkannya sebagai buronan, tetapi keberadaannya selalu tidak diketahui karena selalu berpindah-pindah kota.

Aksi kejahatannya selalu dibarengi dengan kekerasan, dan ini berlangsung antara September-November 2020, dia beraksi dengan menginap di Hotel, lalu berpura-pura menyewa mobil, memukul sopirnya hingga tewas, dan membawa kabur mobil yang ‘disewanya’ itu.

Dalam aksi kejamnya itu, Rio selalu memukul kepala korban, tepat di bagian belakang sebagai sasaran paling mematikan, dan korbannya tewas akibat trauma benda keras.

Belakangan media massa menjulukinya sebagai ‘Rio Martil’ atau ‘Martil Maut’.

Persidangan atas terdakwa Rio Alex Bullo digelar di Pengadilan Negeri Banyumas, tanpa keluarga yang hadir.

Rio didakwa menganiaya hingga menyebabkan kematian Jeje Suraji, yang dikategorikan sebagai pembunuhan berencana, karena dia telah menyiapkan senjata dua buah martil, kejahatannya bertambah karena dia berusaha merampas harta korban, apalagi terungkap dia sudah membunuh tiga orang di berbagai kota.

Berdasar bukti-bukti tersebut, pada 14 Mei 2001, Rio divonis mati, dan ini membuatnya mengaku pasrah.

Rio menjalani hukumannya di LP Kedungpane, Semarang, sebelum akhirnya dipindahkan ke LP Permisan di Pulau Nusakambangan, bersama kasus terpidana mati Kasus Bom Bali I, yaitu Amrozi, Mukhlas, dan Abdul Aziz alias Imam Samudera.

Namun, pembunuhan kembali dilakukan Rio di dalam LP ini hanya karena dia tersinggung, dan korban kelimanya ini adalah Iwan Zulkarnain, pegawai PT Pos Indonesia yang menjadi terpidana kasus korupsi bilyet giro setoran pajak PT Semen Tonasa senilai RP42 miliar yang divonis 16 tahun.

Rio pun dipindah ke sel khusus untuk diisolasi dan memperlancar pemeriksaan, dia melakukan pembunuhan itu tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-27.

Sementara, proses hukum terhadap kasus Rio terus berlanjut, namun mulai tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA), Grasi, hingga Peninjauan Kembali (PK) pun ditolak, itu berarti dia tetap harus menghadapi regu tembak dalam waktu dekat.

Sebelum Rio menghadapi eksekusinya, dia berhasil bertemu dengan keluarga kecilnya, dengan istri dan anak-anaknya yang semakin tumbuh besar.

Menurut pengacaranya yang tidak tahu kapan eksekusi akan berlangsung karena tidak kunjung menerima surat dari Kejaksaan, ada tiga permintaan terakhir Rio.

Pertama, bertemu keluarganya. Kedua, dia meminta maaf kepada seluruh keluarga korban. Ketiga, dia ingin memberikan Al-Qur’an kepada keluarganya, termasuk satu buah diberikan kepada pengacaranya.

Kematian akhirnya menjemput ‘Rio Martil’ alias Rio ‘Si Martil Maut’ pada 8 Agustus 2008, pukul 00.30, dia dieksekusi oleh 12 orang anggota regu tembak di Desa Cipedok, Kecamatan Cilongok, Banyumas.

 

Baca Juga: https://www.immigrationinfocanada.com/mengulas-perdebatan-hukum-kasus-serial-killer-dukun-as-pembunuh-42-wanita/

Ahmad Suradji

Mengulas Perdebatan Hukum Kasus Serial Killer Dukun AS, Pembunuh 42 Wanita

Beberapa waktu terakhir, tanah air kembali diramaikan mencuatnya berbagai kasus pembunuhan yang memiliki keterkaitan dengan praktik perdukunan dan ilmu hitam. Sebut saja, seperti kasus Dukun Slamet Banjarnegara April 2023 lalu, Dukun Rudi yang incest dengan putrinya sendiri hingga membunuh 7 bayi hasil hubungannya itu, dan masih banyak lagi. Jauh sebelumnya pernah ramai kasus Dukun Ahmad Suradji atau dikenal “Dukun AS”.

“Kalau kita bicara dalam perspektif antropologi, orang menganut aliran kepercayaan tertentu itu sudah ada dari nenek moyang kita dahulu,” ujar Akademisi Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) Dr. Eva Achjani Zulfa melalui sambungan telepon, Selasa (12/9/2023).

Ia melihat hal yang disebut ‘ilmu hitam’ maupun ‘ilmu putih’ menjadi sesuatu yang masih ada dalam masyarakat kita sampai sekarang. “Kalau dalam perspektif hukum pidana, apapun perbuatannya manakala itu mengancam nyawa dan tubuh, itu sebuah tindak pidana,” kata dia.

Seperti diketahui, beberapa kasus pernah terjadi berkedok dukun berakhir di meja hijau lantaran aksi ‘menimba kesaktian ilmu hitam’-nya hingga memakan korban. Salah satu dukun yang dalam sejarah kasus hukum di Indonesia pernah dipidanakan karena aksi ‘serial killer’-nya itu yakni kasus Dukun Ahmad Suradji atau yang lebih dikenal sebagai “Dukun AS”.

“Sebenarnya untuk kasus pembunuhan berantai itu penanganannya sama ya seperti tindak pidana pada umumnya. Mungkin ketentuan yang sempat jadi perdebatan waktu itu seingat saya, ketika Jaksa menggunakan Pasal 338 jo. Pasal 64 KUHP. Pasal 64 ini bicara tentang perbuatan berlanjut karena syaratnya ada seseorang melakukan berbagai tindak pidana, tapi lahirnya dari satu niat. Ini terbongkar dari si Istri, dia (AS) mau membunuh 72 orang (karena mendapat bisikan ghaib,” ungkapnya.

Kasus ini ramai menjadi buah bibir di tahun 2000-an. Kasus ini dikenal dalam daftar pembunuh berantai di Indonesia karena telah membunuh 42 wanita di Desa Sei Semayang, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang. Aksi bengisnya itu dilakukan sejak 1986 sampai dengan 1997. Alasannya? Untuk memperkuat kesaktiannya dan mendalami ilmu hitam. Dalam melakukan aksi sadisnya itu, ia meyakini harus menghabisi dan mengisap air liur 72 wanita.

Dukun AS berakhir dengan putusan hukuman mati pada 10 Juli 2008 setelah upaya mengajukan kasasi hingga mengajukan grasi ke Presiden ditolak. Selain penggunaan Pasal 64 KUHP, kasus Dukun AS dianggap lebih tepat jika menggunakan Pasal 340 dibandingkan Pasal 338 KUHP.

Pada akhirnya, aksi kejahatannya itu terbongkar ketika empat hari setelah korban terakhirnya berinisial SKD dihabisi nyawanya. Seorang pemuda Dusun Aman Damai mendapati mayat tak berbusana di ladang tebu. SKD dikabarkan menghilang oleh pihak keluarga. Setelah berjalannya proses penyidikan pihak kepolisian yang tak habis akal, pada akhirnya berhasil ditemukan benang merah yang merujuk pada Suradji.

Seperti diketahui, SKD atau sejumlah laporan orang hilang beberapa waktu belakangan merupakan pasien dari Dukun AS. Perkaranya bergulir ke persidangan di Pengadilan Negeri Lubuk Pakam, Sumatera Utara. Lalu, majelis hakim memutuskan terdakwa Dukun AS divonis hukuman mati pada 27 April 1998. Ia mengajukan upaya hukum hingga kasasi yang berujung ditolak oleh Mahkamah Agung (MA) pada 14 September 1998.

Dengan bantuan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan, Dukun AS sempat memohonkan grasi ke Presiden pada tahun 2004 yang akhirnya ditolak pada 27 Desember 2007 oleh Presiden SBY. Akhirnya, Suradji dieksekusi mati pada 10 Juli 2008 oleh regu tembuk dari Tim Eksekutor dari Satuan Brimob Polda Sumut.

“Kembali lagi mengenai Pasal 64 KUHP, jangka waktu antara satu perbuatan dengan satu perbuatan lain tidak lama. Di kasus Dukun AS ini bervariasi. Tetapi karena kesatuan niat tadi, ini dianggap masih satu rangkaian walau jeda waktunya lumayan lama. Kemudian tindak pidana ini syaratnya yang kadang jadi pertanyaan orang secara teoritis, sebenarnya ini jadi dasar pemberat atau bukan?”

Sebab hukuman yang dikenakan melalui Pasal 64 KUHP, sambungnya, hanya satu aturan pidana saja. “Itu jadi perdebatan. Memang dianggap lebih tepat jika menggunakan Pasal 340 (dibandingkan Pasal 338 KUHP yang didakwakan Jaksa). Agar diserap berdasarkan Pasal 64 KUHP itu menjadi satu kali hukuman mati (melalui Pasal 338),” kata dia.

Eva mengungkapkan mengenai elaborasi lebih lanjut sehubungan dengan alasan di balik sistem penyerapan yang dianut Pasal 64 KUHP ini sampai sekarang masih belum terjawab. Sebab, intensi dari pasal ini sebagai dasar pemberat atau peringan pidana seringkali menjadi perdebatan hingga sekarang.

“Mengenai aturan ini di Pasal 126 ayat (1) KUHP baru, bentuknya sama dengan ketentuan Pasal 64 KUHP lama. Jadi pembentuk KUHP baru ini tidak mengubah normanya. Tetap disebut perbuatan berlanjut itu menggunakan sistem absorbsi atau menyerap, hanya satu (perbuatan, red) saja yang dihukum,” ungkapnya.

Dari kasus Dukun AS dan kasus praktik perdukunan lainnya yang mengandung aliran kepercayaan, menurut Eva, ada beberapa pembelajaran yang dapat dipetik. Secara administratif perihal pengakuan atas aliran kepercayaan ini pemerintah harus mensosialisasi atau memberi penjelasan seluas-luasnya kepada masyarakat. “Bahwa aliran kepercayaan yang diakui pemerintah adalah aliran yang memang tidak melanggar HAM. Ada batasan di sana,” ujarnya mengingatkan.

Sedangkan kepada mahasiswa hukum, ia memandang ada suatu hal yang menarik dalam mempelajari dan mengkaji/menggali putusan-putusan kasus lawas dan sering disebut “ratio decidendi” ialah bagaimana hakim memutus, dasar rasionalisasinya akan dijumpai pada pertimbangan putusan.

“Rasanya penting ya untuk mengkaji putusan-putusan kasus lama. Bukan menjadi sesuatu yang kuno, karena kalau di dalam aliran common law system mungkin sudah dikenal how judge makes the law. Bagaimana hakim mempertimbangkan suatu kasus itu menjadi sesuatu yang saya kira menarik untuk pembelajaran hukum,” sarannya.

Baca Juga: https://alanyatuning.com/ini-7-manfaat-daun-putri-malu-yang-jarang-diketahui/

Dokter-Holmes

Cerita Mengerikan di Balik ‘Kastil’ Kematian Dokter Holmes

Pernah dengar cerita tentang Hotel kematian Dokter Holmes? Bangunan hotel di Amerika berbentuk mirip kastil yang sekarang sudah hancur ini dulunya sempat menghebohkan publik karena terdapat cerita yang sangat mengerikan di baliknya. Cerita mengerikan tersebut tak lain datang dari sang pemilik hotel itu sendiri, Dokter Holmes.

Dokter Holmes

Herman Webster Mudgett Holmes lahir pada tanggal 7 Mei 1860. Sejak kecilia sudah mengalami penderitaan yang hebat. Ia adalah putra dari seorang petani yang sering mabuk dan sering kali memukulinya jika ia melakukan kesalahan. Pada umur 17 tahun, Holmes telah melakukan pembunuhan pertamanya. Korbannya adalah teman lamanya di sekolah. Holmes dewasa menetap di kota Chicago,AS dan mendapat pekerjaan di sebuah apotek besar. Setelah bekerja keras beberapa tahun di apotek tersebut, Ia akhirnya membeli sebidang tanah di dekat tempat kerjanya dan membangun sebuah hotel 3 lantai. Diketahui bahwa hotel tersebut berisikan 51 pintu yang terhalang oleh tembok, 100 ruangan tanpa jendela, tangga-tangga yang tidak berujung, dan dua buah tungku perapian.Terlahir sebagai Herman Webster Mudgett, skandal sebelumnya memberinya alasan bagus untuk mengubah namanya, melansir All That Interesting. Seperti di perguruan tinggi, ketika dia bekerja di lab anatomi dan memutilasi mayat untuk menipu perusahaan asuransi jiwa. Atau ketika dia adalah orang terakhir yang terlihat bersama seorang bocah lelaki yang hilang di New York. Atau ketika dia bekerja sebagai apoteker di Philadelphia dan seorang pelanggan meninggal setelah meminum pilnya. Setelah semua insiden ini, Mudgett hanya melewatkan kota dan akhirnya mengubah namanya menjadi Henry Howard Holmes. Segera setelah kedatangannya di Windy City, Holmes mendapat pekerjaan di sebuah toko obat di 63rd Street.

Pembunuhan Mengerikan di Hotel

Siapa sangka bahwa ternyata banyak terjadi pembunuhan sadis yang dilakukan Holmes pada para tamu hotelnya tersebut. Holmes merancang sebuah sistem alarm yang terhubung dengan semua pintu di setiap koridor dan ruangan hotel tersebut. Sehingga ia bisa memantau setiap gerak-gerik tamu hotel dan para calon korbannya. Holmes dikabarkan membunuh para tamunya dengan beberapa macam cara sadis yang telah ia persiapkan. Cara-cara sadis itu seperti korban akan dikunci di sebuah ruangan yang dilapisi oleh besi, setelah itu Holmes akan menyalakan penyembur api untuk memanaskan seisi ruangan sampai korbannya tersebut meleleh. Ada juga korban yang diberikan gas beracun hingga tewas, dan masih banyak lagi cara sadis yang digunakan Holmes untuk membunuh korbannya. Setelah korbannya tewas, Ia akan memutilasi dan membuang jasadnya ke sebuah ruangan bawah tanah di hotelnya tersebut. Adapun apartemen Holmes sendiri, memiliki pintu jebakan di kamar mandi, yang terbuka untuk mengungkapkan tangga yang menuju ke bilik tanpa jendela. Di bilik, diduga ada saluran besar yang menembus ke ruang bawah tanah. Satu ruangan penting dipenuhi dengan perlengkapan gas. Di sini, Holmes tampaknya akan menyegel korbannya, menyalakan sakelar di ruangan yang berdekatan, dan menunggu kengerian terungkap. Parasut lain ditemukan di dekatnya. Semua pintu dan beberapa anak tangga terhubung ke sistem alarm yang rumit. Setiap kali seseorang melangkah ke aula atau menuju ke bawah, bel berbunyi di kamar tidur Holmes. Namun, perlu dicatat bahwa deskripsi ini telah membuat skeptisisme oleh sejarawan dan perlu diingat bahwa setidaknya beberapa desain mungkin telah dibesar-besarkan oleh surat kabar pada zaman itu.

Penangkapan Dokter Holmes

Pada Tahun 1986, Holmes ditangkap atas dugaan kasus penipuan dan penggelapan uang. Ia bahkan sempat menyusun sebuah rencana pemalsuan kematian bersama seorang temannya sebelum akhirnya polisi berhasil membongkarnya. Setelah penyelidikan lebih lanjut polisi akhirnya juga berhasil membongkar kasus pembunuhan sadis di hotel miliknya tersebut. Usai menjalani beberapa tahun hukuman penjara, Holmes akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Sebelum dieksekusi, ia meminta agar jasadnya dikuburkan sedalam 10 kaki dan ditimbun dengan semen, sebab ia tak ingin ada pencuri makam yang menggali kuburnya dan mencuri bagian tubuhnya. Sementara itu, hotel 3 lantai miliknya hancur akibat sebuah kebakaran besar. Tidak pernah diketahui siapa yang membakarnya. Petunjuk pertama tentang tujuan sebenarnya dari denah lantai diketahui polisi dari tumpukan tulang. Sebagian besar tulang berasal dari hewan, tetapi beberapa di antaranya adalah manusia. Tulang-tulang itu sangat kecil sehingga hampir pasti milik seorang anak, yang berusia tidak lebih dari enam atau tujuh tahun. Dan ketika pihak berwenang turun ke ruang bawah tanah, ruang lingkup kengerian tersembunyi bangunan itu akhirnya terungkap. Di samping meja operasi yang berlumuran darah, mereka menemukan pakaian wanita. Permukaan bedah lain ada di dekatnya – bersama dengan krematorium, berbagai peralatan medis, alat penyiksaan yang aneh, dan rak-rak asam yang hancur. Ketertarikan Holmes dengan mayat tampaknya telah berlangsung lama setelah kuliah, seperti halnya keterampilan bedahnya. Setelah menjatuhkan korbannya melalui saluran, dia dilaporkan membedahnya, membersihkannya, dan kemudian menjual organ atau kerangkanya ke institusi medis atau ke pasar gelap.

Baca juga: